Cabe Berbakteri yang Ditanam WNA China Bisa Jadi Senjata Biologis

post-feature-image

Media Pribumi - Kementerian Pertanian memastikan, seluruh cabe berbakteri berbahaya yang diproduksi WNA China di Bogor, Jawa Barat, telah dimusnahkan. Pemusnahan ini, sebagai wujud proteksi atas produksi cabai nasional. Soalnya, dari penelitian diketahui, cabe asal China ini bisa membunuh pertanian kita.

"Benih cabai ilegal asal Tiongkok ini sangat membahayakan produksi nasional petani cabai Indonesia dikarenakan positif terdapat Bakteri Erwinia Chrysanthemi," tegas Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati, Antarjo Dikin, kemarin.

Antarjo memastikan, bakteri ini sangat berbahaya dan termasuk jenis organisme pengganggu tanaman Golongan A1. Bakeri ini, katanya, termasuk bakteri yang belum ditemukan di Indonesia, dan dapat menyebar. Sebagai langkah proteksi, pembasmian dengan cara eradikasi atau pemusnahan dilakukan.

"Bakteri Erwinia Chrysanthemi dapat menimbulkan kerusakan atau kegagalan produksi hingga mencapai 70 persen," tegasnya.

Antarjo lalu merunut data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengemukakan bahwa produksi cabai nasional tahun 2014 sebesar 1,075 juta ton dengan estimasi harga cabai hari ini sekitar Rp. 60.000. Maka bisa dibayangkan derita petani Indonesia jika bakteri ini kemudian menyebar cabai milik para petani,

"Dengan estimasi harga cabai tersebut, potensi kerugian ekonomi produksi cabai dapat mencapai 45,1 Triliun. Selain itu bakteri ini juga dapat menyerang dan menular pada tanaman-tanaman lain yang ada di Indonesia termasuk bawang," tuturnya.

Lebih lanjut, dia menuturkan ikhwal temuan bakteri ini bermula dari hasil tangkap empat orang warga China pada 8 November lalu oleh Petugas Imigrasi Kelas I Bogor yang menemukan ke empat warga China ini melakukan aktivitas tanam cabai di lahan pertanaman Cabai yang berlokasi di perbukitan (+ 500 mdpl) Desa Sukadamai, Kecamatan Sukamakmur, Kabupaten Bogor.

Temuan mencurigakan ini, lanjut ini, langsung ditindaklanjuti oleh Tim Pengawasan dan penindakan Badan Karantina Pertanian dengan melakukan uji lab terhadap benih cabai yang dibawa warga China tersebut. Hasil uji menyatakan, benih cabai yang ditanam dinyatakan positif terinfestasi bakteri Erwinia chrysantemi Organisme Pengganggu Tanaman Karantina (OPTK) A1 Golongan 1.

Mengingat besarnya resiko bagi pertanian cabai nasional, maka dilakukan pencabutan tanaman cabai, baik yang ada di persemaian, maupun di areal pertanaman dan diangkut ke Instalasi Karantina Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta untuk dilakukan pemusnahan.

"Pemusnahan 2 kg benih cabai, 5.000 batang tanaman cabai dan 1 kg benih bwang daun dan sawi hjau dimusnahkan dengan cara dibakar dengan incinerator di Instalasi Karantina Hewan Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta," pungkasnya.

Dirjen Hortikultura Spudnik Sudjono menambahkan bahwa bakteri yang dibawa oleh benih cabai dari China ini tidak hanya dapat menyerang tanaman cabai saja, tapi juga tanaman lainnya seperti bawang, kentang dan sawi. "Bila menyerang tanaman-tanaman tersebut maka kerugian ekonomi Indonesia akan lebih besar lagi," katanya.

Spudnik menegaskan, Indonesia sebenarnya sudah mandiri benih cabai, baik cabai rawit, cabai keriting dan cabai besar. Bahkan sejauh ini, Indonesia telah memiliki 40 produsen benih cabe di dalam negeri. Indonesia pun, lanjut dia, tidak perlu melakukan impor karena kebutuhan benih cabai dalam negeri telah dipenuhi oleh produsen benih dalam negeri. "Kebutuhan benih cabai nasional dengan luas tanaman kurang lebih 360 ribu hektar, maka setidaknya diperlukan benih sebanyak 72 ribu kg."

Dia pun memastikan benih yang dibawa oleh ke empat warga China tersebut ilegal karena sama sekali tidak pernah mendapat persetujuan dari Kementerian Pertanian. Adapun prosedur pemasukan benih hortikultura termasuk cabai ke Indonesia, tegas Spudnik, sangat ketat karena tidak hanya harus mendapatkan persetujuan dari menteri pertanian tapi juga terlebih dahulu harus diuji keunggulan varietasnya dan mendapatkan persetujuan dari Badan Karantina untuk memastikan benih yang masuk bebas penyakit.

"Pemasukan cabai ke Indonesia dilakukan hanya untuk menambah kekauaan plasma nutfah, untuk bahan pemuliaan," katanya.

Spudnik menambahkan, jumlah benih cabai yang dimasukkan dalam satu tahun terakhir ini, tidak lebih dari 3 persen dari kebutuhan benih cabai nasional. Indonesia juga sudah mengekspor benih cabai dalam tiga tahun terakhir dengan rata-rata 4,6 kg/tahun. "Negara tujuan eksport antara lain Thailand, Malaysia, Korea Selatan, dan lainnya," tambah dia.

Pakar pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Hermanto Siregar mengatakan, bakteri Erwinia Chrysanthemi memang sangat berbahaya bagi pertumbuhan tanaman yang berada disekitar tanaman terjangkit bakteri. "Ini bahaya sekali, bisa menggangu produksi cabai kita," ujar Hermanto.

Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Kajian Strategis IPB merincikan, bakteri berbahaya itu jika tidak dimusnahkan dapat tersebar dan merusak pertanian sekitar. Biasanya, penyebaran bakteri ini melalui udara maupun serangga yang hinggap di tanaman berbakteri.

Nah, dengan udara dan serangga yang tidak hinggap di satu perkebunan, maka akan berpindah ke perkebunan lain. Alhasil, kebun yang dihinggapi serangga dan terkena angin dari cabai berbakteri, akan rusak.

"Ini akan menyebar pelan-pelan, tidak seperti sakit flu yang cepat menyebar. Tapi ini berbahaya, bisa seluruh Bogor kena, kemudian Cianjur, Sukabumi bisa merata terkena wabah," rincinya.

Hermanto menduga, bakteri ini adalah senjata biologis untuk menghancurkan ekonomi Indonesia. Tujuannya, untuk menghancurkan pertanian cabai nasional, sehingga pemerintah melakukan impor cabai ke negeri Tiongkok.

"Bisa jadi senjata biologis. Artinya, dia sengaja merusak hortikultura kita. Bisa jadi akal-akalan mereka seperti itu," terkanya.

Untuk itu, agar tidak berkembang rasa curiga terhadap China, sebaiknya pemerintah segera mengusut peristiwa ini. Apakah pelaku sengaja merusak pertanian Indonesia, atau tidak. "Ini kan kecolongan namanya, harus diusut dari mana dapat bibitnya, modusnya, dan lainnya," pungkasnya. [rmol]







COMMENTS

Nama

bencana,4,bisnis,65,daerah,247,daerahjakarta,1467,daerahpadang,52,ekonomi,557,hiburan,37,hukum,1765,inspirasi,20,internasional,274,islam,566,kesehatan,11,kriminal,121,militer,18,olahraga,30,opini,16,pahlawan,5,pendidikan,24,peristiwa,857,politik,1417,selebriti,66,sosial,133,teknologi,5,tips,3,tokoh,11,video,186,
ltr
item
Media Pribumi: Cabe Berbakteri yang Ditanam WNA China Bisa Jadi Senjata Biologis
Cabe Berbakteri yang Ditanam WNA China Bisa Jadi Senjata Biologis
Kementerian Pertanian memastikan, seluruh cabe berbakteri berbahaya yang diproduksi WNA China di Bogor, Jawa Barat, telah dimusnahkan. Pemusnahan ini, sebagai wujud proteksi atas produksi cabai nasional. Soalnya, dari penelitian diketahui, cabe asal China ini bisa membunuh pertanian kita.
https://1.bp.blogspot.com/-oRIyUkd8htU/WE-iyZNb_ZI/AAAAAAAAs_g/98y5guos44wS-uqdBUt0UdcVM9nntraagCLcB/s640/cabe%2Bicna1.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-oRIyUkd8htU/WE-iyZNb_ZI/AAAAAAAAs_g/98y5guos44wS-uqdBUt0UdcVM9nntraagCLcB/s72-c/cabe%2Bicna1.jpg
Media Pribumi
http://www.mediapribumi.com/2016/12/cabe-berbakteri-yang-ditanam-wna-china.html
http://www.mediapribumi.com/
http://www.mediapribumi.com/
http://www.mediapribumi.com/2016/12/cabe-berbakteri-yang-ditanam-wna-china.html
true
38148814961745276
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Baca Lebih Lanjut Reply Cancel reply Hapus Oleh Home PAGES Berita View All Berita Terkait LABEL Kumpulan Berita SEARCH Seluruh Berita Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy